Ternyata Perokok Aktif Lebih Rendah Terkena Risiko Kanker Paru-Paru, Berikut Panjelasan Ilmiahnya

Ilustrasi Perokok Aktif. (Foto: Gadingnews.Info)
Ilustrasi Perokok Aktif. (Foto: Gadingnews.Info)

Gadingnews.Info, Makassar – Penyebab kanker paru-paru salah satunya dari kebiasaan merokok. Namun ada sebuah penelitian yang justru menyebut bahwa perokok aktif memiliki resiko lebih rendah terkena kanker paru-paru dibanding perokok pasif.

Perbedaan kondisi sel pada tubuh perokok aktif dan pasif terdapat perbedaan. Hal tersebut diungkapkan dalam sebuah studi di Albert Einstein College Medicine.

Jan Vijg, Profesor Komite dan Genetik  di Einstein, membantah bahwa merokok mampu menyebabkan kanker paru-paru karena mendorong mutasi DNA terhadap sel normal paru-paru.

“Tidak ada cara yang secara akurat menghitung mutasi sel normal,” kata Vijg, dikutip dari Science Daily, Minggu (8/5/2022).

Berikut penjelasan Mutasi Sel Perokok Aktif dan Pasif

Vijg dan kelompok penelitiannya kemudian mengembangkan teknik sequencing bernama single-cell multiple displacement amplification (SCMDA).

Metode ini kemudian digunakan untuk membandingkan mutasi sel epitel paru-paru normal dari 14 orang yang tidak pernah merokok (usia 11-86) dan 19 perokok (usia 44-81 yang merokok maksimal 116 pak per tahun).

“Sel-sel ini mampu bertahan selama bertahun-tahun, bahkan beberapa dekade dan mampu mengakumulasi mutasi seiring usia dan kebiasaan merokok,” ujar Simon Spivack, ilmuwan Einstein lainnya.

“Dari seluruh jenis sel paru-paru, sel-sel (yang diteliti) itu merupakan salah satu yang paling memungkinkan menyebabkan kanker,” sambungnya.

Baca Juga : 5 Cara Meminum Kopi Agar Manfaat Kesehatan Bagi Tubuh Bisa Dirasakan

Meski mutasi sel disebut akan bertambah seiring usia, ternyata mutasi sel para perokok aktif lebih ‘maju’ dibanding perokok pasif.

Hal lain yang mereka temukan adalah, jumlah mutasi sel bertambah, sejalan dengan jumlah pak rokok per tahun yang dikonsumsi. Risiko kanker paru turut bertambah.

Walau demikian, peningkatan mutasi sel ini berhenti setelah kebiasaan konsumsi 23 pak per tahun. Spivack menerangkan, perokok yang paling berat, tidak memiliki mutasi tertinggi.

“Penurunan mutasi bisa disebabkan karena para perokok berat itu punya sistem yang sangat canggih untuk memperbaiki kerusakan DNA atau mendetoksifikasi asap rokok,” imbuhnya.

“Data kami menunjukkan bahwa para individu tersebut bisa saja bertahan begitu lama, meski mereka merokok berat karena mampu menekan akumulasi mutasi sel lebih lanjut,” tegas Spivack.

Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa sejumlah perokok, bisa jadi memiliki mekanisme yang sangat baik untuk melindungi diri mereka dari kanker paru dengan cara membatasi mutasi sel paru-paru. Sehingga, hanya ada sedikit perokok yang menderita penyakit tersebut.

Meski begitu, kegiatan merokok menurut banyak penelitian tetaplah dapat mengganggu kesehatan bahkan bisa memicu datangnya penyakit berbahaya. Selain itu, merokok juga dapat merugikan orang lain di sekitarnya yang berpotensi terkena dampak secara langsung seperti rentan terkena kanker paru-paru. (Aly)

Pos terkait

Comment