Ritual Ma’nene, Tradisi Mistis Membangunkan Mayat di Tanah Toraja

Ritual Manene di Tanah Toraja yang terkenal di Mancanegara
Ritual Manene di Tanah Toraja yang terkenal di Mancanegara

Gadingnews.Info, Toraja – Ritual Ma’nene adalah salah satu adat dan budaya Sulawesi Selatan yang dikenal luas sampai mancanegara.

Tradisi berbau mistis dari suku Toraja ini masih terjaga dengan baik hingga kini yang membuat masyarakat dunia takjub.

Bacaan Lainnya

Mengganti pakaian jenazah leluhur atau keluarga yang sudah meninggal disebut Ma’nene.

Tradisi ini dipercaya sudah ada sejak ribuan tahun lalu dan tetap dilestarikan hingga saat ini. Bahkan menjadi salah satu budaya yang cukup langka di dunia.

Ma’nene dapat dijumpai di Kabupaten Toraja Utara setiap bulan Juli, hingga puncaknya pada Agustus, usai panen padi masyarakat di Kecamatan Rindingallo dan sekitarnya.

Ratusan mayat dikeluarkan seperti berjalan dari kompleks pemakaman khas Toraja, atau orang Toraja biasa menyebutnya Patane.

“Ini sebagai penghormatan kepada leluhur kami, terlihat dengan kami mengganti pakaian jenazah mereka para pendahulu kami, ini adalah bentuk cinta kasih kami,” kata Y. Tarukbua, tokoh masyarakat Rindingallo sebagaimana dilansir dali laman dari Inews, Minggu (30/1/2022).

Baca Juga: Ikuti Vaksin, Petani Toraja Utara Dapat Mobil dari Plt Gubernur Sulsel

Sementara itu, menurut Pendeta Hilkia Putra Nehemia, tidak ada yang salah dengan budaya masyarakat setempat. Sejarah Alkitab juga menurutnya tidak bisa lepas dan dipisahkan dengan budaya lain, seperti budaya Yahudi.

Tradisi Ma’nene merupakan sebuah penghormatan terhadap jenazah leluhur, yang dilakukan dalam tradisi orang Toraja yang masih terbawa dari kepercayaan dahulu.

Meski menurut pandangan kekristenan ini sudah kurang tepat. Namun menurut Pendeta Hilkia, tradisi ini tidak salah dalam konteks kekayaan budaya setempat

“Namun, jika dihubungkan dengan mewarisi kekayaan budaya, sebenarnya tidak salah, jika tidak dihubungkan dengan kepercayaan dahulu yang disertai prosesi ‘aluk todolo’ (kepercayaan leluhur). Dalam hal inilah gereja tidak setuju dengan tradisi Ma’nene,” tuturnya.

Tradisi Ma’nene ini terus dilestarikan oleh masyarakat Toraja hingga saat ini. Tradisi ini dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang sudah meninggal.

“Ini sebagai suatu penghormatan kepada pendahulu baik leluhur maupun keluarga yang sudah meninggal, dan sebagai momen kami bertemu dengan keluarga yang ada diperantauan untuk datang mengadakan tradisi Ma’nene,” terang Andarias Minggu, warga Toraja Utara. (Aly)

Pos terkait